Review Fitrah Sekualitas day 6 (kelompok 3)
Mengapa penting membangkitkan Fitrah Seksualitas pada anak dan mengapa?
Fitrah seksualitas dibangkitkan agar anak mengenal perannya sesuai dengan gender mereka baik dalam keluarga atau masyarakat sehingga tidak terjadi penyimpangan sosial.
nah bagaimana solusinya untuk membangkitkan itu semua sebagia orang tua yang terpenting adalah bagaimana mendidik anak agar mereka tidak saja akil baligh namun mendidiknya bisa menanamkan fitrah seksualitas melalui akidah, keimanan dan berpegang teguh pada peraturan ALLah. Selain itu jika anak bisa bertanggung jawab atas apa yang telah di lakukan dengan usia 15 tahun maka anak telah matang. jika Anak telah mantap untuk menikah dengan usia segini tidak ada penghalang orang tua untuk melarangnya dengan catatan mereka telah mampu dalam segala hal dan dewasa menghadapi semua masalah.
Dalam Diskusi ada yang menanyakan tentang
masalah pubertas kedua, menarik sekali karena saya hanya sering mendengar namun ternyata tidak ada pubertas kedua dalam islam. berikut referensinya
Apakah bukan ini fenomena yang sering disebut-sebut orang sebagai adanya puber kedua?
“Itu tidak benar,” tegas Psikolog Yati Utoyo Lubis. “Secara psikologis, puber itu ya cuma sekali, terjadi pada laki-laki dan perempuan ketika memasuki masa akil baligh.”
Karena secara tahapan perkembangan individu tidak dikenal masa puber kedua, maka segala ciri maupun gejala “kembali puber” yang nampak dari sesosok manusia dewasa, menurut Yati lebih dikarenakan adanya problem-problem tertentu sebagai latar belakang masalah.
Semakin dewasa, semakin bijaksana
Bertambahnya usia seseorang menuju usia dewasa, semestinya berarti pula ada pertambahan kematangan dalam hal kepribadian diri. Mereka yang telah memasuki usia dewasa, apalagi mendekati paruh baya, kata Yati, semestinya menjadi bijak di dalam kehidupannya. Sebab, pada usia-katakanlah 40an- mereka-mereka ini tentu sudah banyak belajar dari kehidupan, banyak ilmu dan banyak pengalaman.
Tambah lagi, mereka pun umumnya sudah mulai berpikir bahwa waktu yang tersisa dalam hidupnya adalah tinggal beberapa saat lagi sehingga harus diarahkan pada hal-hal yang penuh manfaat menjelang wafat.
Bahkan, dalam khazanah Islam, usia 40an justru menjadi masa penting bagi para lelaki terpilih yaitu masa dimana mereka diangkat menjadi Rasul. Dalam beberapa riwayat, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, juga Muhammad menjadi nabi pada usia-usia paruh baya.
Lebih jelasnya, ustadz Hasib Hasan, Lc menyatakan, memasuki usia paruh baya dengan gaya puber ABG atau menjustifikasi perilaku bergenit-genit dengan istilah puber kedua adalah tidak benar. Sebab, jelas lulusan Universitas Imam Muhammad Ibnu Su’ud, Arab Saudi ini, arahan Islam pada mereka yang memasuki usia 40an adalah berupaya lebih menyadari hakikat diri dan banyak bersyukur dengan apa-apa yang sudah diperoleh.
“….dan apabila ia telah dewasa dan memasuki usia 40 tahun, maka dia berdoa, ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat beramal saleh dengan hal-hal yang Engkau ridhoi. Berikanlah kebaikan kepadaku (dengan memberi) kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al-Ahqaf :15)
Melihat arahan Rabbani ini, jelaslah terlihat betapa sisi kematangan pribadi seorang mukmin justru akan semakin menonjol seiring pertambahan usianya. Memasuki usia paruh baya, bagi seorang mukmin bukan berarti menjadi lemah, tak berdaya atau justru habis-habisan berupaya tampil muda dalam sikap, tingkah laku dan penampilan.
Bagi mereka, memasuki usia 40an adalah berarti menjadi pribadi yang semakin banyak bersyukur, bertobat, berserah diri, gemar beramal saleh serta lebih bijaksana dan visioner dengan tak hanya berpikir soal kebaikan diri sendiri namun juga kebaikan generasi penerus.
#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#FitrahSeksualitas
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#FitrahSeksualitas
0 Comments